
Sesekali angin mampu menerbos di sela-sela fentilasi tepat di atas jendela. Bukan jendela rumah ataupun di bilik kamar. Aku telah diterima sebagai siswa prakerin di suatu perusahan pembuat Laboratorium ternama di wilayah Jawa. Tempatku bekerja di lantai dua. Suasana yang nyaman dan senior-senior yang welcome membuatku semakin betah tinggal berlama-lama dengan berbagai macam komponen yang ada di depanku.
“Sil, nanti sore jangan lupa ambil paketan dari kakakmu ya! Ada di kost . Kuncinya kayak biasanya.” Kata Silma teman baikku dan juga kakak penasihatku.
“Iye......” Jawabku singkat
“Huft....” nafasku lega ketika memandang kehijauan alam lewat kaca jendela yang berada di samping bangku kerja.
Entah mengapa, akhir-akhir ini aku lebih tertarik dengan rumah megah bercat putih yang berkesan singup itu. Kayu-kayu penyangga kaca jendela terlihat keropos. Pintu besar yang terapit dua jendela itu terlihat tak pernah tersentuh. Terkesan seram tetapi penuh tanya menurutku. Hampir setiap hari di waktu istirahat ku habiskan untuk memandang fokus pada rumah itu.
“Sisil....” Lagi-lagi Silma datang dengan nada yang menjingkatkanku
“Apa? “ Aku hanya mengelus dada sembari membalikkan badan mengarah kepadanya
“Ini makanan buat kamu!” Silma menyodorkan kantong kresek yang ada di tangan kanannya.
Setelah jam istirahat usai, aku dan beberapa teman lainnya membersihkan ruang tempat dimana aku bekerja. Setelahnya aku bergegas untuk pulang. Selama aku menyusuri jalan raya yang ramai dengan sepeda kebanggaanku aku masih membayangkan tentang bagaimana deskripsi yang tepat untuk Rumah Tua itu. Memang terkesan konyol dan buang-buang waktu. Tetapi rasa penasaranku masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya.
Setelah sampai di kos Silma untuk mengambil paket dari kakak aku bergegas pulang. Rumahku beda arah , sehingga aku harus melewati jalan yang searah dengan perusahaan lagi. Tiba-tiba saja kedua mataku mencoba untuk melirik rumah tua itu .
“Sejak kapan rumah itu bertirai hijau? “ Aku membayangkan suatu hal yang janggal pada Rumah Tua itu
Rasa penasaranku semakin bertambah . Hingga aku memutuskan untuk mencari tahu ada apa dengan rumah itu. Bagaikan detektif tanpa jas, aku memutuskan untuk berangkat ke perusahaan lebih pagi dari sebelumnya.
“Sial ! Jam segini belum buka? “ Aku mulai kesal ketika ku lihat jam tanganku menunjukkan angka 6.
Mungkin benar kata orang-orang, bahwa orang yang ingin tahu mengenai suatu hal maka segala sesuatu ia lakukan bahkan melewati samudra dengan ribuan buaya sekalipun. Ketika aku melihat bangunan yang masih dalam renovasi tepat di samping perusahaan aku mencoba untuk menaiki tangga tanpa ubin itu.
“Permisi.... Cuman Kepo gak lebih kok mbah !” Layaknya anak kecil ku gumamkan mantra dari nenekku ketika takut. Di waktu yang mendesak ini akupun sempat mempercayai rumor humor tak fakta itu
Ketika sampai di lantai dua, ku lihat baik-baik Rumah Tua itu. Waktu itu aku lupa tak memakai kacamata padahal mata rabunku tidak bersahabat jika aku tak menggunakan kacamaaku ketika aku melihat sesuatu. Tak perduli apapun aku teliti segala sisi rumah itu. Mirip seperti maling yang sedang asyik survey pada rumah incaran nanti malam.
Dinding yang bercat putih itu mengelupas sepertinya telah termakan usia. Ku lihat lagi jendela di samping kanan dan kiri pintu. Akan tetapi tidak ku dapati tirai hijau seperti kemarin sore. Tirai itu mirip seperti di rumah sakit- rumah sakit.
“Lho.... siapa itu...?” Mataku ku lebarkan lagi sampai bola mataku terasa mau copot. Kedua kakiku tepat di tepi gedung kurang beberapa inchi aku bisa saja jatuh.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi, percuma fikirku melakukan hal bodoh itu. Setelah beberapa minggu mengintai rumah itu seperti biasa. Setiap sore ada tirai hijau yang menggantung di jendela sedangkan pagi hari sekali ada seperti sosok perempuan dengan suara sinden yang bersinggah di sana.
“Ah......” Aku menjerit dengan mengacak-acak rambut ikalku
“Ada apa sih sil?Kalau gak betah bilang aja! Padahal tiap hari aku yang siapin makan siangmu. Aku udah baik sama kamu masak kamu ti......” Belum selesai bicara ku bungkam mulut silma yang penuh rumus cerita tak beraturan itu.
“Sttt....... Kamu tahu rumah tua itu? “ tanyaku dengan nada penekanan penuh teka-teki
“Ow tahu. Tepat di samping rumah itu ada temen aku. Kenapa? Mau beli rumah? Uang darimana? Disini aja belum tentu dapat bayaran. “ Lagi-lagi penjabarannya tak karuan
Setelah aku menceritakan semua yang ku alami mengenai Rumah itu, Silma hanya tertawa terbahak-bahak
“Lho kok tertawa? Aku serius.” Aku terheran-heran dengannya
“Itu rumah mbah Markonah. Dia itu mantan sinden. Sudah lama dia di tinggal sama suaminya yang meninggal. Kalau gak salah suaminya itu veteran. Nah, dia punya anak tunggal denger-denger tinggal di luar negeri.”
“Serius? “ Aku semakin tak yakin dengan paragraf cerita Silma
“Ya Elahhh.... Kapan aku bohong? Sumpah aku jarang bohong. Ntar sore aku anterin.” Jawabnya sambil berlalu ke lantai bawah
Ketika waktu pulang, aku dan Silma beregas menuju Rumah tua itu dan ternyata benar dengan apa yang dikatakan Silma. Mbah Markonah sangat baik bahkan aku dan Silma di jamu dengan segelas Teh hangat dan gorengan pisang.
“Mbah sering pasang tirai hijau itu karena pemberian dari anak semata wayang mbah. Dia jadi suster di Malaysia. Sekarang menetap disana karena dapat suami di sana.Terakhir kesini lima tahun yang lalu. Yang datang tiap bulan cuman kiriman uang aja. Kalau mau nambah di belakang ada ?” Kata mbah Markonah dengan ramah
“Iya mbah terimakasih.”Aku hampir tertegun malu mendengar ceritanya.
Akhirnya aku pamit pulang tanpa ada rasa penasaran sekalipun. Bahkan aku merasa lebih tenang ketika mendengar sedikit kehidupan Mbah Markonah yang baik hati itu. Maklum saja Rumah itu tampak tua karena hanya seorang nenek tua renta yang tinggal seorang diri di sana.
“Mangkannya mentang-mentang punya cita-cita jadi jurnalistik jangan suka kepo sama urusan orang lain.” Celetuk Silma di tengah perjalanan.
Tidak ada komentar: