ads

Slider[Style1]

Style2 a

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style 6


Kenanganku ketika putih biru masih merapikan hidupku. Ketika aku duduk terpaku menatap poster yang ada di sudut dinding kamar terasa dingin fikiranku. Pose mereka dengan modifikasi senyum yang berbeda tlah berhasil mengingatkanku akan hari itu. Hari itu terbilang hari penutupan yang persembahannya mirip dengan semangkuk es campur. Rasanya menghambur menjadi satu. Akan tetapi dominan rasa manis tlah menghipnotis tebaran senyum diantara kami.
“Satu..dua..tiga..” Hitung Nara Salah satu teman seperjuanganku yang dekat sekali denganku.
“Ayo jesi angkat dua jari hhahaha” Tambahnya seakan menikamku untuk bahan lelucon.
Mungkin semua ini akan tamat dengan episode terakhir sebuah perpisahan sekolah. Hari itu dimana aku mampu menghabiskan segala kebahagiaanku. Di bawah kolong langit dengan disaksikan pohon-pohon hijau ini aku menangis bahagia bersama sekawananku. Kini diantara kami mulai tersadar mengenai arti sebuah kebersamaan yang tlah bertahun-tahun menjajaki hidup.
Kamu mau lanjut dimana? Ah habis ini kita gak bisa bareng lagi.... Kata-kata itu mengaduk di area perpisahan. Setelah acara yang cukup sakral ini berakhir, semua orang yang awalnya berduyun-duyun berkumpul kini tlah bubar dengan langkah mereka yang semrawut.
Itu yang terakhir kali ku ingat ketika aku melihat poster ukuran 1,5 m*1 m itu. Setiap paragraf yang terdeskripsikan oleh fikiranku tlah membuat senyuman-senyuman kecilku.
“Kring.....” Imajinasiku buyar ketika ada suara telefon yang berdering tiba-tiba
Setelah ku jawab ternyata Nara kawan SMPku. Sudah dua tahun aku dan Nara tidak pernah berkomunikasi apalagi bertemu. Berita reuni tersiar tepat di gendang telingaku. Entah mengapa getaran itu memompa jantungku sampai terdengar degupan itu. Mungkin itulah gambaran senangku.
Hari demi hari hingga hari yang kutunggu-tunggu sampai juga. Pukul 08.00 WIB tepat, aku bergegas menuju Rumah Makan Enak dekat Taman Indah. Hanya membutuhkan beberapa menit agar aku sampai di tempat itu dengan sepeda motor keseharianku.
Setelah beberapa langkah aku menuju pintu utama, tak kudapati satu orangpun disana. Bahkan pelayanpun masih sibuk dengan urusan dapur. Selang beberapa menit kemudian ada seorang laki-laki seumuranku dengan penampilan yang cukup rapi dan tatanan rambut ala korea tersenyum mengarah kepadaku. “Hai Jes....” Dia semakin dekat dan berjabat tanganlah aku dengannya
“Ino? Wih keren kamu sekarang. Lanjut dimana?” Aku sempat menganga melihat tampilan sosok Ino Fernando Ajinanda temanku yang dulu terkenal paling lucu di kelas dan cukup baik dalam bidang olahraga.
Ditengah sibuknya perbincanganku dengannya, Ino memanggil pelayan untuk memesan dua gelas Cappucino. Entah mengapa aku merasa cukup lama. Hingga aku memutuskan untuk pergi.
“Yang lain kemana? Jam segini belum datang. Yaudah aku pulang dulu ya?” Aku beranjak dari nyamannya kursi yang berbantal
“Tunggu! Minum saja dulu cappucinonya. Aku sering kesini cuman buat minum ini. Sumpah ini enak kok.” Ino berhasil membujukku dengan kalimat-kalimat itu
Setelah aku duduk dan berbincang-bincang kembali tiba-tiba teman-teman datang iringan lagu Selamat Ulang Tahun
“Oh ....” Kata singkat penuh makna berbalut air mata bahagiaku mendadak mengalir di tiap pori-pori pipiku.
Ternyata jebakan terindah ini yang direncanakan teman-temanku. Tidak cukup dengan kue tart berbalut coklat bertabur kismis dan cherry merah. Tetapi, beberapa kado dengan bentuk yang berbeda-beda ada di depanku. Hanya ucapan terimakasih dan kebahagiaan saja yang ku lontarkan dengan penuh rasa di tengah reuni itu
Setelah acara selesai, Semua pamit dengan ucapan perpisahan yang berbeda-beda. Mirip dengan hari yang beberapa tahun lalu ku lalui yaitu Perpisahan Putih Biru. Ketika aku sibuk dengan ponselku tiba tiba Ino datang dengan kado berkotak kecil dengan pita polkadot yang melingkar
“Ini.... Makasih dan maaf ya....” Kalimatnya singkat dan sarat makna membuaku kabur berfikir
Setiba di rumah aku menyibukkan diri untuk membuka setiap bungkusan kado yang telah diberikan teman-temanku itu. Entah mengapa kedua tanganku mendapati kado Ino terlebih dahulu. Setelah ku buka ternyata kotak musik dengan secarik surat berbentuk kotak bemorif hati.
Selamat Ulang Tahun Jesi!
Wish You All You The Best!
Ow iya, terimakasih ya kamu sudah menyempatan diri untuk berbincang-bincang. Maaf mengenai tadi itu aku memang sengaja supaya teman-teman di ruang makan lain untuk mempersiapkan kejutan itu dulu. Aku minta ke mereka untuk kesempatan ngobrol berdua sama kamu. Kamu ingetkan Cappucino tadi. Gambar Hati Cappucino tadi indahkan? Sayang sekali jika diminum. Lebih enak di pandang. Tetapi, ingin sekali lidah ini merasakan kenikmatan rasanya. Dua pilihan yang menyedihkan kan? Emang dasar Cappucino. Aku yakin pasti kamu tahu maksud di balik Cerita Cappucino itu. Yang jelas itu isi hatiku. J Sekalian nih mau pamit besok mau berangkat ke luar kota. Aku mau lanjutin Study ke rumah Paman di Jakarta. Baik-baik ya disini. I love you!
Dari secangkir Cappucino aku dapat memahami Ino. Tetapi semuanya terlambat. Hanya terlambat bukan berarti sia-sia.
“Makasih Ino semoga nanti kita bertemu.” Kataku dalam pejaman mata yang berlinangan air mata dengan menggenggam erat secarik surat itu.



Sebarkan ya...
Share on Google Plus
«
Berikutnya
Posting Lebih Baru
»
Sebelumnya
Posting Lama

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :

Tidak ada komentar:


Top