ads

Slider[Style1]

Style2 a

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style 6


Semalaman bintang berpijar bercerita dan bersyair merdu. Seketika itu Dera Anastasya tersedu mendengar desiran angin malam. Ungkapannya hanya mampu dihatinya saja pecah luluh tersiksa batinnya tersiksa. Terkadang diam lantas bergumam seperti tak waras saja. Tiba saja hujan turun di tengah derasnya air mata yang mengarus di lesung pipinya. Tak habis fikir melihatnya seperti itu hanya karena sosok laki-laki. Tak jelas cintanya berambisi untuk apa.
“Seperti ludahan naga yang berapi-api tepat pada punuk unta yang sedang haus di tengah padang pasir.” Sembari ia loloskan pukulannya pada guling di sisi kanannya
Rambut panjangnya terurai lusuh tak seperti biasanya. Kedua matanya sembab tersisip kekesalan yang amat mendalam. Bahkan kedua lubang hidungnya sulit mengatur nafas. Hingga fajar menyapa bumi masih saya ia dalam kesedihannya.
“Tin...Tin....” Suara klakson dari luar menyadarkannya dari segala kebodohannya semalam
“ Tunggu” Jawabnya singkat lantas turun dari tangga dengan kalung handuk di lehernya.
Entah persiapan seperti apa hanya dengan 15 menit Dera telah siap menyapa sahabat karibnya.
“Hai Nita si Gojek Cantikku!” Sapanya dengan mulut yang sibuk dengan potongan sandwich suapan mamanya.
Semenjak SMP Dera dan Nita selalu bersama. Bahkan saat ini, di SMK Jaya mereka juga bersekolah bersama. Hanya saja kelas mereka yang sekarang berbeda. Walaupun seringnya akibat kesalahfahaman akibat sifat kekanak-kanakan Dera dan kepolosan yang menjengkelan seorang Nita tak pernah ada renggang di tengah eratnya persahabatan mereka.
Sesampainya di Sekolah, Dera terlihat murung akibat melihat sosok yang telah menjadi biang keladi kedua matanya yang sembab akibat tangisnya semalam. Selama ini hanya celotehan kosong dari hati Dera. Jangankan mengangguk dari pertanyan Dera menoleh atau menyapa saja ia tak pernah. Seringnya raut menjengkelkan melintas begitu saja tanpa permisi. Sekolah yang harusnya untuk belajar bukan lagi untuk Dera.
Akibat seorang Dika yang entah dari sudut ketrendyannya, diamnya atau pintarnya tlah berhasil menghipnotis seorang Dera. Seperti biasa, usai kegiatan pelajaran, Dera menuju perpustakan hanya untuk menulis bait-bait puisi konyol yang sangat imajinatif. Disanalah ia kuras habis segala kekesalannya, kekecewaanya dan semua yang ia rasakan pada sebuah buku berpita pink dengan cover polkadot yang tak singkron dengan isi dari buku tersbut yang hanya bertulisan kesedihan konyol.
“Seringnya akupun tak menghitung
Karena biasa akupun tak mengurangkan
Kebencianpun tlah lama ku kalikan
Ku akar sudah partikel piluh gilaku
Lengkap sudah rusuk rusk bodohku
Terbangun menjadi kubus yang akan reyot” Celotehnya pada bait puisinya.
Kekesalannya semakin menjadi akibat selesainya ulangan matematika yang begitu sulit di tambah seorang Dika sang pelopor kesedihan Dera.
Sebagai seorang sahabat, Nita tidak bisa hanya menjadi penonton kisah drama sahabtnya. Bagaimanapun ia harus memiliki peran tritagonis yang akan memecahkan semua konflik di atas panggung sandiwara ini. Dengan lipatan keberanian ia menuju ke kelas Dika
“Dika!! perkenalkan saya Nita Anggi. Anda dapat memanggil saya dengan sebutan Nita bukan Pengecut. Ow iya, maaf hanya sekedar informasi bahwa sahabat saya yang bernama Dera memiliki perasaan bukan untuk di injak-injak tetapi di hargai. Jika anda tidak menyukai setidaknya hargai sedikit. Menyedihkan sekali hidup anda yang tidak tahu bagaimana cara bertoleransi terhadap sesama. Sungguh mengenaskan.” Panjang lebar Nita mnejlaskan dengan nada Resmi dan ekspresi seperti layaknya reporter.
“ Ehemm..Bisa kita bicara di Sanggar? Memalukan kata-kata anda jika terlontarkan dalam kondisi seperti ini.” Dika membalas pernyataan Nita dengan menyeretnya menuju sanggar.
Di sana Dika menjelaskan bahwa sebenarnya ia memiliki hal yang sama seperti yang dirasakan Dera. Beberapa bukti seperti foto kesehariannya, nomor telfon yang tersimpan di contactnya, Sms-sms Dera yang tersimpan lebih dari 100 tetapi tak pernah ia balas. Dika hanya malu dengan kawan-kawannya. Karena ia telah lebih digosipkan dengan Dera. Dika tidak suka dengan cara Dera yang dengan entengnya mempublikasikan ini semua.
“ Jika memang nanti dipetemukan kita akan bertemu. Jika tidak berarti Tuhan memiliki rencana yang lebih indah dari rencana kita. Yang jelas sukses dulu. Oke ..... Yang kamu anggap ke aku itu SALAH .... Selamat tinggal.” SMS terakhir Dika kepada Dera ketika keesokan harinya ia berpindah ke luar kota untuk melanjukan sekolahnya.

Sebarkan ya...
Share on Google Plus
«
Berikutnya
Posting Lebih Baru
»
Sebelumnya
Posting Lama

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :

Tidak ada komentar:


Top